Hukum Ikhtilath (Campur Baur) di Kegiatan Belajar Mengajar – Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Silahkan simak kajian Al-Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA. yang bertajuk Hukum Ikhtilath (Campur Baur) di Kegiatan Belajar Mengajar – Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.

Tolong berkomentar dengan bijak sekaligus tingalkan adu argumentasi dan caci maki.



Membantah syubhat da’i-da’i hizbiyyun dan harokiyyun yang menghalalkan ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan di kegiatan belajar mengajar, berhujjah ikhtilath sudah ada pada thawaf mengelilingi ka’bah dari jaman Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم sampai sekarang.

Disampaikan oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ُحَفِظَهُ اللهُ

Transkrip Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

Penanya berkata:
“Apa hukum ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan di kegiatan belajar mengajar dan pekerjaan, sebagian berhujjah/berdalil bahwa ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan) telah ada pada zaman nabi صلى ا لله عليه وسلم , pada saat thawaf (mengelilingi ka’bah) dan amalan-amalan haji lainnya.”

Asy-Syaikh menjawab:
“Ikhtilath hukumnya haram. Ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan karena hal tersebut menyebabkan fitnah.
Nabi صلى ا لله عليه وسلم telah mendahulukan perempuan dari laki-laki ketika keluar dari masjid (dengan tujuan pemisahan). (Shahih Al-Bukhari, 819)
Dan ketika (di masjid) menjadikan tempat perempuan di belakang sendiri, dan menjadikan laki-laki tempatnya di depan.
Dan nabi صلى ا لله عليه وسلم bersabda:
“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan dan yang paling jelek adalah yang paling belakang, sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang dan sejelek-jelek shaf
perempuan adalah yang paling depan.” (Shahih Muslim, 664)
Maka nabi صلى ا لله عليه وسلم menjadikan laki-laki shaf tersendiri, dan terhadap wanita shaf tersendiri, dan tidak menjadikan ikhtilath (campur baur) atas dua jenis (laki-laki dan perempuan), ini merupakan kedustaan atas Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم .
Demikian pula pada shalat ‘Ied (hari raya), laki-laki shafnya di depan, sedangkan perempuan shafnya di belakang.
Dan dahulu nabi صلى ا لله عليه وسلم jika selesai berkhutbah di tempat laki-laki, setelah itu dia pergi berkhutbah ke shaf perempuan (di balik hijab). (Shahih Muslim, 1465) sebagaimana telah shahih yang sedemikian itu.
Kenapa mereka tidak menjadikan mereka ikhtilath (campur baur)?
Dengan menjadikan jenis ini berdampingan dengan jenis yang itu, melainkan untuk menangkal fitnah, dan sebagai bentuk pengajaran kepada umat ini dan mengharamkan bentuk ikhtilath (campur baur).
Adapun apa yang terjadi ketika thawaf (mengelilingi ka’bah), maka ini bukanlah kesengajaan. Yang menginginkan thawaf dalam keadaan ikhtilath (campur baur), maka orang ini telah berdosa, dia telah melakukan sesuatu yang diharamkan, yang menyengaja untuk ikhtilath ketika thawaf. Orang ini telah berdosa, dan kita berlindung kepada Allah atas hal ini.
Adapun orang yang tidak meniatkan sama sekali untuk ikhtilath (campur baur), tapi hanya (terpaksa) terjadi ikhtilath karena tempat thawaf telah penuh berdesak-desakan. Keterpaksaan, dikarenakan sudah penuhnya tempat thawaf (di kurun akhir ini), maka hal ini bukanlah ikhtilath yang disengaja. Hal itu tidak menjadikannya ikhtilath yang diharamkan sebagaimana mereka persangkakan, demikian.”

Chanel http://youtube.com/azispratomo
Download video via Telegram @zispratomo

ceramah ini bersumber di source

Semoga kajian dengan berjudul Hukum Ikhtilath (Campur Baur) di Kegiatan Belajar Mengajar – Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ini menghasilkan manfaat untuk kita semua.

Jika ada hal yang tidak elok silahkan laporkan Admin melalui link “Lapor” di menu atas. Terima Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *