NTB Berduka | Selamat Jalan TGH Safwan Hakim

Berikut video Al-Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. yang berjudul NTB Berduka | Selamat Jalan TGH Safwan Hakim.

Mohon mengomentari dengan bijak dan jauhi adu argumentasi dan caci maki.



Detik-detik Terakhir Bersama Sang Tuan Guru
oleh: Ustadz Ahmad Musyaddad

Malam ini saya dikejutkan dengan kabar duka dari Kediri. “Abun Shafwan Wafat”. Sontak saya bangkit dari tempat tidur, setelah baru saja selesai mengemasi barang untuk berangkat kembali ke tanah suci.

Saya masih belum percaya, sebab baru beberapa jam yang lalu saya masih duduk bersama beliau, berbagi cerita, ada tawa, ada semangat dan suka cita yang saya tangkap dari wajah beliau yang bersih. Wajah yang semakin memancarkan kesejukannya setiba beliau dari tanah suci.

Sekitar tiga jam, kurang lebih kami bermajlis bersama beliau. Saya merasakan ini adalah bagian dari waktu-waktu teramat berharga. Selama membersamai beliau, sejak dahulu mondok sampai beberapa kali bertemu di tanah suci tahun-tahun terakhir ini, inilah moment paling mengesankan bagi saya.

Beliau banyak bercerita tentang perjalanan spiritual beliau bulan Ramadhan tahun ini. Dari Qatar lalu ke Mekah dan Madinah. Dan ternyata ini adalah Ramadhan yang sangat berkesan bagi beliau. dan ternyata ini adalah Ramadhan terakhir beliau. Semoga catatan ringan ini dapat menjadi penyempurna wasiat dari Abun bagi para alumni khususnya, dan kaum muslimin umumnya.

Perjalanan Menuju Qatar

Sejak sebelum bulan puasa tiba, Abun dan Inak tuan sering berkonsultasi kepada saya tentang niatan beliau untuk beri’tikaf di Masjidil Haram tahun ini, sekalian mampir di Qatar dalam rangka membangun jaringan demi pengembangan dakwah dan pondok pesantren. Saya pun memberikan banyak masukan dan langsung menghubungi teman2 alumni yang ada di Qatar dan tanah suci. Ketika sudah mantap, beliaupun berangkat didampingi istri tercinta.

Abun bercerita tentang Qatar, tentang Alumni NH yang ada di sana, tentang para ulama yang tak kenal lelah mengemban risalah Islam ini. Beliau sangat bangga dgn teman2 alumni yang ada di Qatar. Beliau bercerita dengan mata berkaca-kaca tentang sambutan mereka yang luar biasa. Tak pernah beliau kira di Qatar bisa mendapatkan service luar biasa seperti itu. jazakumullah khairan Alumni NH dan sahabat di Qatar.

Salah satu hal yang membuat beliau sangat bahagia adalah pertemuan dengan Ulama besar dunia, Syaikh Prof. Dr. Yusuf al-Qardhawi. Lagi-lagi merupakan hal yang sesuatu sekali bagi beliau, ketika beliau dapat berbincang dan mendengarkan diskusi hangat di ruang perpustakaan pribadi Sang Syaikh bersama tim dakwah beliau. Abun sangat terkesan dengan perhatian al-Qardhawi terhadap dunia Islam, kendatipun usia beliau sdah sangat sepuh. Ini bukan masalah manhaj dan pilihan metode dakwah semata. Ini adalah tentang pewarisan semangat dakwah dan mengembangkan ilmu, sampai akhir hayat. tentang berfikir dan berkontribusi dalam proyek kejayaan Islam. tentang semangat tholibul ilmi meski sdah jadi kiyai. Dan itu yang telah ditunjukkan oleh beliau, Abun yang kita banggakan. Rahimakumullah Abun, pelungguh telah memberi kami teladan terbaik menjadi pewaris Nabi.

I’tikaf di Masjidil Haram

Ini adalah kenikmatan yang patut dicemburui oleh setiap kita. Menghabiskan waktu mulia di tempat paling berkah, di Baitullah. Padahal dalam kondisi fisik yang sdah lemah, sementara medan yang sangat susah di sepuluh hari terakhir Ramadhan di Masjidil Haram, beliau tetap bersemangat menggapai lailatul qadar di tempat paling mulia ini. Saya tak kuat menahan tangis menuliskan hadits berikut, Nabi saw bersabda,

إن الله إذا أحب عبدا استعمله. قالوا: كيف يستعمله. قال: يوفقه لعمل صالح قبل موته (رواه أحمد )

“Sungguh, jika Allah cinta pada seorang hamba, Dia akan memakainya” Sahabat bertanya, “Bagaimana Allah memakainya?” Beliau menjawab, “Dia akan bimbing hamba tersebut untuk beramal shaleh sebelum ia wafat.” (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad)

Ya Allah, Engkau mencintainya. Engkau panggil dia setelah tuntas ibadah mulianya. Ya Rahman..

Kepulangan Membawa Takdir

Allah sudah tetapkan beliau wafat di lombok. bukan di Mekah. bukan di Madinah. bukan di atas pesawat. Sesuai jadwal awal, seharusnya beliau pulang tanggal 19 juni dan setidaknya tiba di lombok pada tgl 20 juni tadi malam. tapi begitulah, Allah Maha tahu hikmah dimajukannya kepulangan beliau dari tanah suci. Sambil tertawa beliau berkata, “Kerimong idap te uleq, ndeq te sempat ganti tangkong”. Hal ini karena jadwal pulang yang sangat mendadak. Semoga Engkau kembali kepada Rabbmu dengan jiwa yang bersih Bapak.

Akhir kata, saya menyaksikan keceriaan dan suka cita yang sangat benderang di wajah Abun hari Rabu kemarin. Saya hanya sempat mencium kening beliau yang harum. Kening yang mengakhiri waktu-waktu akhirnya di hadapan Ka’bah. Saya hanya sempat berdoa di hadapan jenazah beliau tadi malam.

Selamat jalan Abun menuju taman kebahagiaan nan abadi..

Salam hangat saya kepada segenap keluarga Abun beserta keluarga besar Nurul Hakim yang sedang berduka. Mohon maaf tidak sempat menghantarkan Abun ke tempat peristirahatan beliau yang terakhir, sebab catatan inipun saya tulis di atas pesawat dalam perjalan kembali menuju Mekah al-Mukarramah.

GA431, 07.30.

video ini diambil di source

Semoga kajian dengan berjudul NTB Berduka | Selamat Jalan TGH Safwan Hakim ini menghasilkan kebaikan untuk kita semua.

Jika ditemukan perkara yang kurang pantas silahkan laporkan Admin lewat link “Lapor” di menu atas. Terima Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *