Umdatul Ahkam Hadits ke-217 – Melaksanakan Nazar di Masa Lalu – Ustadz Aris Munandar (Eps. 213)

Silahkan simak kajian Ustadz Aris Munandar, M.P.I. yang berjudul Umdatul Ahkam Hadits ke-217 – Melaksanakan Nazar di Masa Lalu – Ustadz Aris Munandar (Eps. 213).

Mohon berkomentar dengan bijak sekaligus hindari adu argumentasi dan caci maki.



Masa lalu ada nazar? Apakah Anda mempunyai nazar di masa lalu? Sudah tahu penjelasan nazar di masa lalu?

Video ini menjelaskan tentang melaksanakan nazar di masa lalu dalam pembahasan Kitab Umdatul Ahkam karya al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi rahimahullah Hadist ke-217. Di samping itu, dijelaskan pula nazar dalam Islam. Tahukah Anda nazar dalam Islam itu seperti apa?

Salah satu bentuk ibadah yang wajib ditujukan kepada Allah semata adalah nazar. Nazar merupakan tindakan seorang yang mewajibkan dirinya untuk melakukan suatu ibadah kepada Allah, yang pada dasarnya hal tersebut tidak wajib. (lihat Taudlihul Ahkam [7/132])

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, dulu di masa lalu (masa jahiliyah) sebelum aku masuk Islam pernah melakukan nazar. Nazar tersebut yakni i’tikaf selama satu malam”. Dalam riwayat lain, “Iktikaf selama satu siang di Masjidil Haram”.

Apakah nazar tersebut wajib dilaksanakan ataukah tidak?

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Laksanakanlah nazarmu”. Demikian hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim.

Ada versi yang lain untuk redaksi ini yaitu periwayatnya tidak menyebutkan apakah nazar Umar itu sehari satu siang atau satu malam. Sehingga ia hanya mengatakan, “Wahai Rasulullah, saya nazar di masa lalu (masa jahiliyah) untuk itikaf”.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim antusias untuk mengetahui hukum perbuatan-perbuatannya meskipun perbuatan tersebut terjadi di masa lalu bahkan terjadi sebelum masuk Islam atau terjadi sebelum ia bertaubat. Apakah Anda mempunyai puasa nazar (ikrar nazar puasa)?

Maka hal-hal yang pernah dilakukan pada masa lalu itu selayaknya ditanyakan apakah ada konsekuensi hukumnya ataukah tidak setelah ia menjadi seorang muslim atau setelah bertaubat.

Dalil ini menjunjukkan disyariatkannya nazar dan jika seseorang mengikrarkan ikrar nazar maka suatu hal yang diperbolehkan. Dan nazar itu teranggap nazar manakala dilisankan. Jika seorang itu mengikrarkan nazar itu bukan karena meminta kompensasi kepada Allah ta’ala.

Sebagian orang mengikrarkan nazar dan menyebutkan nazarnya dengan mengaitkan kompensasi nikmat tertentu, maka ikrar nazar semacam ini adalah suatu hal yang tidak sepatutnya karena ikrar nazar semacam ini mengisyaratkan bahwasanya pelaku nazar pelit untuk beramal.

Dan hadits ini menjadi dalil diperbolehkannya i’tikaf kurang dari satu hari satu malam karena Umar ingin iktikaf selama satu malam saja. Itikaf adalah tinggal di masjid dengan niat tertentu dan dengan tata cara tertentu. Bisa dikatakan pula, itikaf artinya menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.

Malam lailatul qadar adalah malam kemuliaan karena siapa yang melakukan amal shalih pada malam tersebut, Allah akan catat pahalanya lebih baik daripada melakukan amal yang sama selama seribu bulan.

Ada banyak tanda tanda malam lailatul qadar atau ciri ciri malam lailatul qadar. Di antara tanda malam lailatul qadar atau ciri malam lailatul qadar yaitu malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain. Inilah keistimewaan malam lailatul qadar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah i’tikaf pada 10 hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, maka para istri Nabi pun tetap iktikaf di masjid.

Oleh karena itu, disyariatkannya itikaf dan i’tikaf ditekankan untuk dikerjakan pada 10 hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.

Lalu kapan malam lailatul qadar? Malam lailatul qadar jatuh pada tanggal berapa? Ingin mendapatkan lailatul qadar saat i’tikaf (iktikaf)?

Yuk, simak selengkapnya dalam video Yufid TV “Umdatul Ahkam Hadits ke-217 – Melaksanakan Nazar di Masa Lalu – Ustadz Aris Munandar (Eps. 213)” berikut.
*
►► SUBSCRIBE di sini untuk belajar lebih tentang Islam : http://www.youtube.com/subscription_center?add_user=moslemchannel
*
YUK, FOLLOW SOSIAL MEDIA YUFID.TV LAINNYA UNTUK MENDAPATKAN UPDATE VIDEO TERBARU!
Fabebook : https://www.facebook.com/Yufid.TV/
Instagram : https://www.instagram.com/yufid.tv/
Telegram : https://telegram.me/yufidtv
Yufid.TV Official Website : http://yufid.tv
*
YUK, DUKUNG YUFID.TV!
Yuk, dukung dengan belanja di Yufid Store : http://yufidstore.com
*
DONASI UNTUK VIDEO DAKWAH DAPAT DISALURKAN KE :

BNI SYARIAH
0381.346.658
a.n. YUFID NETWORK YAYASAN

BANK SYARIAH MANDIRI
7086.882.242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Paypal : finance@yufid.org

NB :
Rekening di atas adalah rekening khusus donasi Yufid Network, jadi Anda tidak perlu konfirmasi setelah mengirimkan donasi. Cukup tuliskan keterangan donasi pada saat Anda transfer.

Link catatan penerimaan donasi Yufid Network selama ini dapat Anda lihat di : https://goo.gl/y7o7Se

video ini bersumber di source

Semoga kajian yang bertajuk Umdatul Ahkam Hadits ke-217 – Melaksanakan Nazar di Masa Lalu – Ustadz Aris Munandar (Eps. 213) ini memberikan manfaat bagi kita semua.

Jika ditemukan hal yang tidak elok silahkan laporkan Admin lewat link “Lapor” pada menu atas. Terima Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *